Akhlak Remaja Muslim Tujuan kita diciptakan manusia adalah untuk beribadh kepada Allah. Remaja muslim dituntut untuk menjalankan ibadah dengan sebaik2nya seperti sholat lima waktu, puasa di bulan romadhon zakat, sodakoh.dll
dengan menjalankan sholat lima waktu, remaja muslim terbiasa displin dengan waktu dan bacan yang di ucapkan dalam sholat dan merupakan do'a bagi diri sendiri. Sedangkan dengan zakat kita terbiasa peduli dengan lingkungan sendiri sehingga kita berbagi rasa dengan o rang lain.
Remaja muslim yang beribadah dengan baik, d engan sendirinya mempunya pribadi yang baik.
Ibadah yanng baik haruz terwujud dalam ahlak yang baik.Remaja muslim ang berahlak akan menjauhkan diri dari hal-hal (syubhaT)dan yang haram, menjaga lidah untuk tidak berbicara selain kebaikan dan kebenaran.menumbuhkan rasa malu,menampilkan sikap lemah lembut, sabar, jujur,rendah hati. bersikap murah hati, dan menjadi tauladan bagi muslimah lainya.
Tentu sajaremaja muslim yang baik tidak akanterpengaruhdengan hal-hal negatif seperti terlibat narkobadan perkelahian masal serta perbuatan tercela lainya.karena mereka menjadi tauldan bagi remaja lainya..
Agar menjadi remaja muslim yang memiliki akiqoh, ibadah, dan ahlak yang baik,remaja muslim haruz berhati-hatidalam melakukan kegiatan edan bersikap waspadaterhadap hal-halyang dapat menjurmuskanke jurang kehinaan. Orang tua juga haruz membimbing dan menggarahkan mereka agar se lamat didunia dan di akherat serta menjadi
Remaja Muslim.
Oleh karna itu,
Agar hidup kit di dunia ini tidak sia-sia kita haruz teruz berusaha mempertahankan keimanan kita kepada Allah.hal; ini dapat dilakukan dengn selalu mendekatkn hati kita kepada Allah memberikan kita kebahagian kita kebahagiaan dan kemanfaatka, Swrta mencurahkan bermacam-macamnikmatan dunia dan akherat.
1). Akhlak Penentu Kasih SayangAkhlak Baik ialah sikap hidup atau perangai atau watak baik yang menjadi amalan tradisi seseorang. Akhlak baik lahir dari hati yang baik. Contoh-contoh akhlak baik
ialah bersifat bertolak-ansur, suka menolong, pemurah, tawadhu’, pemaaf dan suka meminta maaf, penyayang, rajin, jujur, ramah mesra, mudah bekerjasama dan lain-lain.
Seseorang yang ada padanya sifat-sifat baik ini adalah seorang yang punya daya tarik yang kuat. Orang akan tertarik dan jatuh hati serta sayang padanya. Walaupun tidak ada padanya keistimewaan-keistimewaan lain yang menarik kasih sayang aradhi atau kasih tabi’i, namun orang tetap sayang kerana faktor akhlak ini. Sebab fitrah manusia sayang pada orang yang berakhlak baik.
Manusia walau apa bangsa dan agama, suka pada akhlak baik. Orang kecil atau besar, kaya atau miskin, lelaki atau perempuan, orang jahat atau baik, semuanya akan jatuh hati kepada orang yang berakhlak baik. Ertinya akhlak baik ini adalah satu sumber kasih sayang yang semua orang, semua bangsa dan agama menerimanya. Ia boleh menjalin kasih sayang antara kawan, manusia berlainan agama dan segala peringkat manusia.
Kasih sayang yang wujud kerana faktor akhlak adalah kasih murni, yang bersih dari sebarang kepentingan. Ia juga tidak mudah luntur dan tidak akan luntur, kecuali kalau orang yang berakhlak itu tidak berakhlak lagi. Namun akhlak itu tidak mungkin hilang dari manusia sebab ia adalah watak atau perangai yang sudah sebati dengan diri.
Akhlak baik kalau ada pada orang-orang yang sudah berkasih sayang kerana faktor keturunan atau kerana faktor kecantikan dan kebendaan, jasa dan lain-lain, akan membantu menambah dan mengekalkan kasih sayang tersebut. Sebaliknya tanpa akhlak baik, kasih sayang yang dicetuskan oleh faktor-faktor tadi akan cacat dan mungkin lenyap.
Begitulah peranan akhlak baik dalam menentukan hubungan kasih sayang antara manusia sejagat. Ia adalah faktor asas dan utama dalam mencetuskan kasih sayang antara sesama manusia. Sebab kecantikan akhlak diakui oleh semua hati manusia. Ia adalah kecantikan maknawiyah yang mempesona hati setiap orang; sebagaimana kecantikan lahiriah mempesona setiap mata. Kasih sayang kerana akhlak ini tidak akan luntur dan orang akan kenang sampai mati. Beruntunglah orang-orang yang berakhlak baik, kerana mereka mendapat kasih murni yang abadi dari seluruh manusia.
2). Muslimahku Sayang. . . Menjadi wanita memang menyenangkan, apa lagi menjadi wanita “Muslimah”, sebab muslimah bererti wanita yang telah dipilih oleh ALLAH untuk menerima hidayah-Nya dan

menjalankan kehidupan sesuai dengan sunnah Rasul-Nya.
Rasulullah sebagai manusia pilihan ALLAH, sangat mengambil berat terhadap muslimah. Beliau sangat menyayangi muslimah hingga beliau berpesan dalam sebuah hadiths yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas,
“Tidaklah seorang muslim yang mempunyai anak dua orang perempuan kemudian ia berbuat baik dalam berhubungan dengan keduanya akan dapat memasukkannya ke dalam syurga.”
Di masa Baginda hidup kaum wanita mreasakan angin segar dalam kehidupannya, sedangkan sebelumnya pada masa jahiliyah hidup teraniaya, tidak mendapatkan hak yang semerstinya.
Kehidupan wanita muslimah saat itu boleh dikata beruntung dibandingkan dengan wanita sekarang pada umumnya. Kerana muslimah relatif hidup dalam komuniti masyarakat yang memahami nilai Islam secara baik. Hidup mereka betul-betul tersanjung, kerana mereka merasakan hidup sesuai fitrahnya.
Berbeza dengan situasi sekarang, ketika ramai wanita menuntut emansipasi, persamaan darjat. Boleh dikatakan kehidupan wanita sekarang berada di tengah komuniti masyarakat yang tidak memahami nilai-nilai Islam. Ini menyebabkan tidak selesanya dalam hidup mereka. Sudah tentu wanita muslimah harus berupaya menghilangkan rasa tidak selesa mereka tersebut. Caranya adalah dengan mulai mengaktifkan dirinya dalam perlaksanaan nilai-nilai Islam serta berupaya mengaktifkan wanita lain untuk beramal Islami.
Ustadz Faisal Maulawi, seorang Mufti Lubnan, menyatakan,
“Saatnya sekarang keadaan ummat sedang dalam keadaan bahaya, para wanita muslimah yang solehah wajib terjun untuk terlibat dalam membentengi dan memperbaiki ummah.”
Untuk menjadi muslimah yang disayang oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam, hendaknya diperhatikan dan menguasai empat yang berikut:-
a). Faqihah Lidiiniha (Fakih dalam agamanya)
Seorang muslimah hendaknya faqih(faham) terhadap Deen(agamanya). Selayaknya ia dapat membaca Al-Qur’an dengan baik, tajwid dan makhraj hurufnya. Kemudian dapat membaca hadiths dan selalu pula menjadi bacaan hariannya, kerana dengan itu ia memahami keinginan Rasul-Nya untuk kemudian berusaha menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan cara hidup Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam.
Setelah itu ia berusaha menyesuaikan kehidupannya sesuai dengan cara hidup Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Ia juga harus berusaha memperkayakan diri dan wawasannya melalui belajar kepada seorang guru yang jujur dalam menyampaikan ilmu-Nya, dan berusaha banyak membaca buku agama lainnya seperti tentang aqidah, akhlaq, fiqh, sirah, fiqh da’wah, Tariq Islam, sejarah dunia dan ilmu kontemporari lainnya. Contoh muslimah yang menguasai ilmu-ilmu ini adalah Sayiddah Aisya Radhiyallahu Anha.
b). Naafi’ah fi Tagyiiri Biiatiha (Ejen Perubahan)
Ia mengambil berat terhadap lingkungannya (persekitarannya), selalu membuka mata dan telinga untuk mengetahui keadaan lingkungannya, berusaha menjadi anasir tagyiir (unsur perubahan) dalam lingkungannya, selalu mengupayakan lingkungannya menjadi lebih baik.
Contohnya Ummu Syuraik yang selalu mengelilingi pasar apabila solat tiba untuk mengingatkan penghuni pasar agar segera melaksanakan solat dengan kalimatnya yang terkenal “Assolah, Assolah!!!”
Demikian… semoga dengan empat hal ini kita dapat menjadi Muslimah yang dicintai ALLAH Subhanahu wa Ta’ala & Rasulullah Sallallahu Alaihi wa Sallam. Aameen.
3). Benarkah aku????
Sahabat, jika kita merasa telah berbuat atau menebar manfaat dan yang paling banyak
beramal maka patutlah kita bertanya dalam hati siapakah yang menjadikan kita dapat mengerjakan semua kebaikan-kebaikan tersebut?
Saudara yang dirahmati ALLAH, jangankan kita menolong orang lain, sekadar menggerakkan jari pun apabila ALLAH tidak mengizinkan maka kita tidak juga bisa berbuat apa-apa.
Dengan itu, sebanyak apa pun amal sholeh kita, tiada lain itu adalah anugerah ALLAH yang tidak terkira besarnya.
Subhan-ALLAH! Selayaknyalah kita bersyukur atas kesempatan untuk beramal kerana belum tentu kesempatan berbuat baik itu kita dapatkan lagi esok hari.
Saudaraku, seandainya kita telah menyadari bahawa kemampuan itu milik ALLAH maka janganlah kita menyombongkan diri dengan merasa telah banyak melakukan amal. Tidak sedikit orang yang berbuat kebaikan, tetapi ia membakar pahalanya sendiri dengan riya’, sombong dan gemar dengan pujian. Akhirnya apa yang dikerjakannya tidak memberikan manfaat, baik untuk dirinya mahupun orang lain.
Saudaraku, selagi kita masih bisa melakukan kebaikan maka bersyukurlah! Lakukanlah hanya untuk mengejar redha-NYA dan apa pun amal sholeh yang pernah kita lakukan, lupakanlah! Carilah kembali apa yang belum kita kerjakan selagi kita dapat mengerjakannya. Ingatlah, waktu kita untuk menebar manfaat hanya sekejap, jangan kita sia-siakan.
Dunia adalah arena perjuangan bagi kaum beriman. Beruntung atau merugikah kita pada kehidupan yang panjang nanti bergantung bagaimana kita hari ini. Jangan biarkan kita menangis dan menyesal di hari nanti; tiada lagi pertolongan. Berbuat baiklah mulai hari ini!
Ada harap yang tertawan
Galau rindu kian menggebu
Pada-MU wahai ILLAHI RABBIku
Langkah demi langkah terayun sudah
Walau hati berkabut resah
Ku bertanya dalam gundah
RABBI…, bahagiakah ENGKAU?
Kembali lautan cemas menyelimuti
Dalam esak ku berlari pada-MU
Hamba berbuat tiada lain untuk-MU
Dan tiada kemampuan selain dengan izin-MU
Wahai RABBI yang ku rindu
Di mana dan ke mana ku ingin selalu bersama-MU
Saat kehidupan yang akan berlalu
Daku tidak ingin yang lain, selain senyuman-MU.
4). SYUKUR!!!!
Wahai saudaraku, syukur adalah kunci kebahagiaan. Orang yang bersyukur hatinya akan merasa tenteram dan puas akan segala anugerah yang Allah limpahkan.
Bagi orang yang bersyukur kenikmatan demi kenikmatan akan terus mengalir, kenapa? Kerana ia menjadikan semua anugerah yang diterimanya sebagai sarana untuk mengabdi dan beribadah kepada-Nya. Tanda yang lain, orang yang pandai bersyukur tidak pernah merasa kekurangan, dia akan merasa berkecukupan walaupun tidak berlimpah harta sebaliknya orang yang tidak pandai bersyukur akan merasa selalu kekurangan meskipun hartanya berlimpah. Orang yang pandai bersyukur akan selalu melihat orang yang ada di bawahnya, tetapi untuk urusan akhirat dia akan selalu melihat ke atas. Kalau dia merasa telah berbuat banyak maka dia kaan mencari orang yang lebih baik lagi dan berusaha untuk terus memperbaiki amalannya.
Sekarang kita bertanya kepada diri kita, apakah kita sudah termasuk orang yang bersyukur atau masih jauh? Semoga kita termasuk orang yang pandai bersyukur atas segala nikmat yang Allah berikan.
5). Untukmu wahai wanita
Ada wanita jelita bertabur permata 
Pakaian indah laksana bidadari surga
Harum semerbak menawan sukma
Dan ia pelita setiap hamba
Wahai wanita…
Kita hiasi keindahan wajah dengan percikan wudhu
Kita gunakan eye shadow tadabbur
Jangan lupakan lipstick nasihat
Dan sekelilingnya kita tata dengan kosmetik tawadhu’
Jangan lupakan gelang-gelang pemberi menghias tangan nan indah
Kenakan sepatu kaca berjuang ketika akan melangkah
Pakaian kebesaran taqwa siap kenakan
Mahkota permata mulia jangan sampai ketinggalan
Kita berlayar di laut lepas dengan bahtera sakinah
Kita isi sisi ruang kapal dengan design baiti jannati
Arahkan tujuan menuju dermaga redha
Dan kita berlabuh di pantai bahagia
Wahai para wanita…
Semoga engkau kembali pada fitrahmu nan mulia.
6). Buah kasih
Wahai muslimah yang dirahmati Allah, pernahkah engkau berfikir bahawa dengan
mengikuti perintah menutup aurat, banyak keuntungan yang anda dapatkan. Ada sebuah ketenangan, tenang untuk dilihat dan tenang untuk dipandang. Kebersihan terjaga, terlindung dari teriknya sang mentari dan akan terasa lebih hangat manakala dingin menggigit.
Wahai muslimah, dengan perilaku yang sopan dan pakaian tertutup indah menawan, insya-Allah akan membuat mata tenang memandang. Saat mata memandang pada dua sudut yang berbeza, yang satu melihat tubuh yang dibalut dengan kain serba ketat hingga mudah untuk dilihat, sedangkan yang satu tertutup rapi dan membuat mata tenang memandang. Jika nurani berkata jujur, baik lelaki atau pun wanita insya-Allah akan tenang memandang pada yang tertutup. Jadi untuk siapakah kita mempamerkan aurat tersebut? Untuk kebahagiaan dan kepuasan semata-mata? Kebahagian yang mana? Kepuasan yang seperti apa? Apakah kerana kebanggaan? Sememangnya diri kita milik siapa? Yang punya badan menyuruh untuk menutup, kita malah ingin mempamerkannya, tidak malukah kita? Membanggakan sesuatu yang sudah ternyata bukan milik kita?
Pandangan yang penuh cemuhan, bahkan kadang-kala menyusahkan dan orang yang suka (bukan bererti menghormati, tetapi terdorong nafsu berahi) dan relakah kita dengan pandangan seperti itu? Silakan merenung dan berfikir kerana kebahagiaan hati tidak bisa ditukar dengan pujian dan sanjungan apalagi penuh kepalsuan. Segeralah cari redha Illahi dengan mengikuti segala perintahnya.
Saudariku, tidak sedikit saudari-saudari kita yang tidak menyedari hal itu. Anugerah kecantikan yang semestinya dirawat dan disyukuri malah dijadikan bahan tontonan dan kebanggaan. Mereka mengira dengan penampilan yang serba terlihat dan mempesona di khalayak umum akan menjadi suatu kebanggaan yang dapat membuat orang lain menghargai dan terpesona. Kita marah, tetapi kita juga harus merasa kasihan kerana mereka kurang menyedari kalau yang dilakukannya itu telah menyakiti dzat yang Maha Menciptakannya.
Saudariku, masih ingatkah dengan cerita ketika Rasulullah di isra’ mi’rajkan? Rasulullah melihat ada wanita di dalam neraka yang kakinya ke atas, kepalanya ke bawah sambil meminum air yang mendidih dan memakan kayu kajum yang menghancurkan ususnya. Rasulullah bertanya kepada malaikat,
“Siapakah dia wahai malaikat?” maka malaikat menjawab, “Ya Rasulullah, itu adalah umatmu yang tidak mahu menutup rambut dan auratnya.”
Saudariku, begitu pun dalam Al-Quran surah An-Nuur dan Al-Ahzab mengatakan bahawa menutup rambut itu wajib hukumnya, tetapi bukan bererti sekadar menutup rambut.
Allah menyuruh,
“Ulurkan jilbabmu menutupi dada” (QS. An-Nuur: 31) dan
“Ulurkan jilbabmu menutupi tubuh” (Al-Ahzab: 59)
Saudariku, bersyukurlah kita dengan saudari yang sedang belajar menutup rambut, tetapi sedarlah bahawa dengan menutup rambut dan berpakaian tidak menutup aurat apalagi masih ada bahagian yang jelas terlihat belum sesuai dengan apa yang Allah serukan. Maka sedarilah dan mulailah dari sekarang untuk mengikuti apa yang menjadi kewajipan kita di hadapan-Nya.
Saudariku, kemulusan dan kecantikan bukanlah milik kita. Jadi, betapa malunya kita kalah membanggakan sesuatu yang sebenarnya bukan milik kita. Semua pasti akan kembali ke hadapan-Nya. Yang terakhir wahai saudariku, jadilah sebaik-baik penghias dunia iaitu wanita solehah yang disayangi Allah dan Rasul-Nya. Peliharalah kemuliaan kita di hadapan-Nya, semoga kita termasuk hamba yang disayangi Allah dan Rasul-Nya jua. Amiin.
7). Wahai Muslimah Yang Anggun
Giat Menjadi Wanita Paling Anggun Di Dunia Wanita, dengan kecantikan yang Wanita miliki lebih anggun daripada mentari. Wanita, dengan akhlaq yang Wanita
miliki, lebih harum daripada kasturi. Wanita, dengan keredahan diri yang Wanita miliki, lebih tinggi daripada rembulan. Wanita, dengan sifat keibuan yang Wanita miliki, lebih menyegarkan daripada hujan. Oleh kerana itu, peliharalah kecantikan itu dengan Iman; peliharalah keredhaan itu dengan sikap qana’ah; dan peliharalah kesucian diri itu dengan hijab.
Ketahuilah, bahawa perhiasan anda bukan terletak pada emas dan perak dan bukan pula pada berlian yang anda kenakan, melainkan pada dua raka’at di penghujung malam, kehausan di tengah hari yang terik disebabkan puasa kerana Allah, sadaqqah yang tersembunyi tampa ada yang mengetahui selain Allah, air mata hangat di saat beristifar dan zikir yang membersihkan dosa, sujud yang lama di atas hamparan sajadah, dan rasa malu kepada Allah saat dorongan kejahatan dan rayuan musuh manusia datang menggoda.
Jadikanlah taqwa itu bak pakaian anda, niscaya anda akan menjadi Wanita yang tercantik di dunia meskipun pakaian anda tambal-sulam. Jadikan rasa malu anda sebagai baju kurung anda, niscaya anda menjadi Wanita yang paling anggun di dunia meskipun anda tidak beralas kaki.
Hindari oleh anda pola hidup seperti yang dilakukan oleh wanita-wanita fasiq dan non-muslim, yang suka memperlihatkan daya tarikannya untuk memikat lawan jenis, kerana sesungguhnya wanita-wanita fasiq dan non-muslim itu adalah bahan bakar neraka Jahannam.
- Di Setiap Bagian Dari Kehidupan Kita Pasti Akan Di Temui Sisi Yang Gelap, Tiada Lain Bagi Kita Untuk Menanggulanginya, Kecuali Dengan Menyalakan Pelita Dalam Diri Kita Sendiri.
8). Menggapa Dikau sombong dengan Kecantikan.
Kenapa seseorang perempuan boleh bersikap sombong? Seseorang yang merasa dirinya mempunyai kelebihan dan kedudukan yang tinggi lantas memandang rendah kepada orang lain adalah seorang yang sombong.
Biasanya manusia jadi sombong jikalau dia ada kelebihan daripada orang lain. Sama ada dari sudut paras rupa, suara, pangkat, keturunan, kekayaan, kemasyhuran, atau kerana banyak jasa dan amal. Kalau difikirkan secara logik akal, memang tidak patut benar manusia ini bersikap sombong. Kenapa? Katakanlah bahawa dari sudut rupa parasnya dia memang cantik tetapi apakah tidak ada orang lain yang lebih cantik dan lebih menawan daripada dirinya di dunia ini? Sudah pasti ada. Cuma dia sahaja yang tidak sedar, lantas dia pun rasa dia sahaja yang cantik dan menawan. Rupa yang cantik itu sebenarnya adalah satu anugerah mahupun tuah demi menikmati kebahagiaan dunia. Setengahnya menggunakan anugerah Allah itu untuk melakukan maksiat. Dengan menjadi model atau pun pelakon filem yang ditonton oleh ribuan mata yang agressif setiap hari.
Dengan kelebihan rupa yang ada pada dirinya, dia pun tawan ramai manusia yang bernama Lelaki. Lelaki, apabila dirinya sudah digodai, ditawan oleh paras rupa yang menarik dan cantik, anak, isteri dan rumahtangga sanggup dia lupakan! Si perempuan cantik itu pula merasa bangga kerana telah berjaya membuatkan lelaki tunduk di bawah telunjuk jarinya.
Apakah kecantikan yang dimiliki itu boleh kekal selama-lamanya? Sudah terlalu ramai kita saksikan dalam hidup kita seharian, orang yang secantik mana sekalipun di usia remajanya, bila hari tua nanti kulitnya akan menjadi tegang, kendur, pipi gebunya akan berkedut dan kecut, mata bundarnya akan jadi kelabu dan rabun, rambut ikal mayang mengurainya akan jadi putih. Hilanglah semua kecantikan yang dibangga-banggakan. Kecantikan yang menjadikan dia sombong dan bongkak dengan manusia. Lebih-lebih lagi dia dianggap ungkal dan murka terhadap Allah kerana menggunakan rupa cantik untuk menentang hukum-hakam Allah SWT!
Kalaupun dia tidak sempat melihat hari tuanya, katalah dia mati di usia muda. Lalu jasadnya ditanam di dalam tanah. Maka ulat, cacing dan segala makhluk penghazam dalam tanah akan memamah hidung mancungnya, pipi gebunya, mata bundarnya dan seluruh dagingnya. Yang tertinggal nanti hanyalah tengkorak yang berlubang matanya, yang patah hidungnya, yang berceracak giginya dan tulang-tulang rangka yang keras dan pejal!
Mana dia kecantikan paras rupa yang dibangga-banggakan itu? Semuanya sudah binasa jua. Ia kerana semua itu bukanlah milik kita tetapi hanya dianugerah oleh Allah Yang Maha Pemurah. Apabila anugerah yang telah diberikan, ditarik kembali nikmatnya, maka tidak berdayalah kita hendak mengembalikan kecantikan itu. Oleh itu apa yang hendak dibangga dan disombongkan pada cantiknya rupa? Ingatlah bahawa ia semua bukan milik kita tetapi milik-Nya jua.
Lagi pula secantik-cantik manusia di dunia ini, tidak ada yang dapat menandingi kecantikan Nabi Yusuf. Kecantikan Nabi Yusuf pernah membuatkan sekumpulan wanita yang sedang memotong buah, terpotong jarinya disebabkan terlalu kagum dan asyik melihat kecantikannya. Adakah pernah kita sampai putus jari bila lihat ratu cantik? Tentu tidak pernah bukan.
Cantik itu satu nikmat yang dihadiahkan oleh-Nya. Kalau tidak pandai menjaga, ianya boleh menjadi sebab pemiliknya dihumbankan ke dalam api Neraka Jahanam! Beta[a tidak, kerana cantik, ada orang yang sanggup jual maruah diri. Sebab cantik, ada orang yang boleh memainkan diri lelaki sehingga mereka tertunduk pada kemahuannya. Sebab cantiklah, ada orang yang boleh pengaruhi kemenangan berada di pihaknya walaupun pada hakikatnya dia bersalah. Dengan kecantikan juga, ada orang boleh jadi mahsyur dan terkenal, disanjung dan dipuja oleh jutaan manusia. Menyebabkan dia sombong, bongkak dan lupakan sang pencipta, Allah Swt yang mengurniakan kecantikan itu padanya.
Nabi SAW bersabda:
“Orang-orang yang sombong bongkak kelak pada Hari Qiamat, akan dihimpunkan di Mahsyar kecil-kecil sebesar semut berbentuk manusia, diliputi oleh rasa kehinaan dari segala penjuru, mereka digiring ke dalam Neraka Jahanam, diliputi oleh api dan diberi minum dari thinatul kabaal iaitu dara bercampur nanah dari orang-orang Neraka.”
Begitulah ancaman Allah SWT kepada orang-orang yang sombong. Kenapa perlu sombong dengan kelebihan yang ada pada kita? Bukankah pada hakikatnya kita adalah sama. Berasal dari air mani yang hina. Lemah dan tidak bermaya, terkurung dalam rahim seorang wanita. Lalu lahirlah diri kita ke dunia yang penuh dengan fitnah dan dugaan. Sekiranya tidak dihijab oleh Allah SWT dengan daging dan kulit, tentu kita akan rasa jijik dan muntah. Bila melihat diri sendiri. Apalagi melihat orang lain.
Setiap manusia/insan daripada kita, apabila mati akan menjadi mayat. Busuk dan meloyakan jika ia dibiarkan terkapar di atas tanah. Untuk elakkan dari bau busuknya, terpaksa ditanam dalam-dalam di perut bumi. Kalau tidak tentulah ramai manusia yang muntah, tidak lalu makan, pening dan tidak senang hidup kerana terganggu dengan bau busuk. Lihatlah apa yang telah terjadi pada iblis laknatullah. Sebab sombong dengan kejadiannyalah iblis tercampak dari kedudukan mulia dan tinggi di sisi Allah SWT. Dibuang ke tempat yang hina-dina. Dari secantik-cantik makhluk, Allah melakhnat dia hingga menjadi sehodoh-hodoh makhluk Allah.
Iblis (Azazil) dulunya adalah ketua para malaikat. Dia telah beramal dan mengabdikan dirinya pada Allah SWT beribu-ribu tahun lamanya. Sehingga satu ketika tertulis di pintu Neraka, akan ada seorang muqarrobin (yang hampir dengan Allah) akan dihumbankan ke dalan Neraka, yakni telah disenaraikan sebagai salah seorang ahli Neraka. Maka apabila para malaikat menerima perkhabaran itu, masing-masing rasa bimbang. Rasa cemas dan takut. Masing-masing rasa diri mereka tidak selamat dari ancaman itu. Entah-entah mereka yang akan dicampak ke Neraka.
Lalu berusahalah para malaikat berjumpa ketuanya Azazil yang terkenal hebat di kalangan para malaikat; yang doanya tidak pernah ditolak oleh Allah. Malaikat Jibril, Mikail, Izrail dan seluruh malaikat datang kepada Azazil. Masing-masing minta Azazil mendoakan agar mereka bukanlah orang yang dimaksudkan oleh tulisan pada pintu Neraka itu. Lalu Azazil pun mendoakanlah keselamatan para malaikat itu. Tetapi satu kesilapan dilakukannya: dia lupa untuk mendoakan keselamatan dirinya.
Mungkin kerana merasa dia sudah hampir dengan Allah dan telah banyak buat ibadah maka Azazil rasa tidak mungkin dia pula yang akan dihumbankan ke Neraka. Tidak terlintas pun di hatinya tentang kemungkinan itu. Apabila Allah ciptakan Adam dari tanah lalu Allah perintahkan sekalian malaikat sujud padanya, Azazil amat tersinggung dengan perintah itu. Mengapa dia perlu sujud pada Nabi Adam? Siapa Adam? Adam dari tanah yang hina, sedangkan dia dari cahaya yang indah, lalu terasalah sombong dan bongkak di dalam diri Azazil.
Mana patut dia sujud pada makhluk yang lebih hina kejadian dari dirinya? Lantas iblis memberontak; tidak mahu sujud pada Adam, lalu Allah murka dan melaknatinya. Allah SWT halau dia dari kerajaan langit lalu dia merempat di bumi. Ketika dia hendak naik ke langit, para tentera Allah akan melontarnya dengan bola-bola api. Di Akhirat nanti, Allah sudah tetapkan tempat iblis di Neraka. Begitulah nasib orang yang sombong.
Sehebat mana pun manusia di dunia ini, kepalanya tidak akan boleh mencecah awan. Kakinya tidak akan mampu membelah bumi. Oleh itu, sebaik-baiknya biarlah kita bersikap tawadhuk pada makhluk, lebih-lebih lagi pada Allah. Sikap sombong bukan sahaja dimurkai Allah, malah dibenci oleh makhluk. Orang yang sombong amat mudah mengasari orang lain yang dirasakan lebih rendah dari dirinya. Sikap itu bertentangan dengan fitrah manusia. Tidak ada manusia yang suka dihina dan dikasari.
Sebaliknya, orang yang tawadhuk dan merendah diri, akan dihormati dan disanjung walaupun dia tiadak pernah meminta dihormati dan disanjung. Orang akan senantiasa teringat-ingat padanya, walaupun dia tidak pernah meminta diingati atau dimuliakan.
Ibnu Umar berkata bahawa Rasulullah pernah bersabda:
“Jika kamu melihat orang tawadhuk, maka hendaklah kamu merendah diri dan jika kamu melihat orang-orang yang sombong, maka sombonglah mereka sebab yang demikian itu bagi mereka sebagai penghinaan dan untuk kamu sebagai sadaqqah.”
Untuk mendapat sifat tawadhuk dan merendah diri, ada beberapa cara. Antaranya ialah dengan selalu bergaul dengan orang-orang yang miskin dan hina seperti peminta sadaqqah. Atau bergaul dengan orang yang mempunyai sifat yang berlawanan dengan kelebihan yang ada dalam diri kita, yang dengan itu kita merasakan bahawa darjat kita di mata ramai nampak rendah. Kalau kita kaya misalnya, kita boleh hilangkan sifat sombong dengan selalu berkawan dengan orang miskin. Kalau kita sombong dengan keturunan bangsawan, berkawanlah dengan orang kebanyakan.
Di samping itu, selalulah kenangkan asal kejadian kita dari air mani yang hina. Serupa dengan orang lain juga. Apalah yang hendak disombong dan dibanggakan? Lagipun, apa yang menyebabkan kita jadi sombong itupun bukannya kekal. Kecantikan, harta kekayaan, kepandaian dan sebagainya, semuanya bersifat sementara.
Ingatlah ancaman Allah terhadap orang yang sombong:
“Sesungguhnya mereka yang sombong untuk taat sebagai hamba-Ku, mereka akan masuk Neraka Jahanam sebagai makhluk yang hina-dina.” (Al Mukminin: 60).
9). Jangan Takut Jadi Orang Yang Aneh
“Assalamu’alaikum Warakhmatullahi Wabarakaatukh, Dunia memang aneh”,
Gumam Pak Ustadz.
“Apanya yang aneh Ustadz?”
“Tidakkah kamu perhatikan disekelilingmu, bahawa dunia menjadi terbolak-balik, tuntutan jadi tontonan, tontonan jadi tuntutan, sesuatu yang wajar dan seharusnya dipergunjingkan, sementara perilaku menyimpang dan kurang ajar malah menjadi pandangan biasa. Cuba anda rasakan sendiri, nanti pada waktu Maghrib, anda ke masjid, kenakan pakaian yang paling bagus yang anda miliki, pakai minyak wangi, pakai kopiah, lalu kamu berjalan kemari, nanti kamu ceritakan apa yang kamu alami”
Kata Pak Ustadz.
Tanpa banyak tanya, penulis melakukan apa yang diperintahkan Pak Ustadz, menjelang maghrib, penulis bersiap dengan mengenakan pakaian rapi dan wangian dan berjalan menuju masjid yang berjarak sekitar 800m dari rumah.
Belum setengah perjalanan, penulis bertembung dengan seorang ibu muda yang sedang jalan-jalan sambil menyuapi anaknya.
“Jadi hairan ni rapi sangat, sama seperti pak ustadz, mahu kemana?”
tanya ibu muda itu.
Sekilas pertanyaan tadi biasa sahaja, kerana memang kami saling kenal, tetapi ketika dikaitkan dengan ucapan Pak Ustadz diatas, menjadi sesuatu yang lain rasanya;
“Kenapa orang yang hendak pergi ke masjid dengan pakaian rapi dan memang semestinya seperti itu dihairankan? Kenapa justru orang yang jalan-jalan dan memberi makan kepada anaknya ditengah jalan, ditengah adzan maghrib berkumandang menjadi biasa-biasa sahaja pada mereka?”
“Kenapa orang ke masjid dianggap aneh? Orang yang pergi ke masjid akan terasa “aneh” ketika orang-orang lain justru tengah asyik nonton TV atau siaran langsung AFCup. Orang ke masjid akan terasa “aneh” ketika melalui kerumunan orang-orang yang sedang berborak dipinggir jalan dengan suaranya yang lantang seolah-olah tidak memperdulikan suara panggilan adzan. Orang ke masjid terasa “aneh” ketika orang lebih sibuk mencuci motor dan mobilnya yang kotor kehujanan.”
Ketika hal itu penulis ceritakan ke Pak Ustadz, beliau hanya tersenyum,
“Kamu akan banyak berjumpa dengan ”keanehan-keanehan” lain disekitarmu,”
kata Pak Ustadz.
“Keanehan-keanehan disekitar kita?”
Cubalah ketika kita datang ke pejabat, kita lakukan shalat sunnat dhuha, pasti akan nampak “aneh” ditengah orang-orang yang sibuk sarapan, baca suratkhabar dan berbual. Cubalah kita shalat dzuhur atau Ashar tepat waktu, akan terasa “aneh”, kerana masjid masih kosong, akan terasa aneh ditengah-tengah sebuah lingkungan dan teman yang biasa shalat diakhir waktu. Cubalah berdzikir atau tadabur al qur’an ba’da shalat, akan terasa aneh ditengah-tengah orang yang tidur berdengkur setelah atau sebelum shalat. Dan makin terasa aneh ketika lampu mushola/masjid harus dimatikan agar tidurnya tidak diganggu oleh lampu yang silau dan membuatnya tidur dengan selesa. Orang yang mahu shalat malah terasa menumpang ditempat orang yang tidur, bukan disebaliknya, yang tidur itu justru menumpang ditempat shalat. Aneh bukan?
Cubalah hari ini shalat jum’at lebih awal, akan terasa aneh, kerana masjid masih kosong, dan baru akan terisi penuh manakala khutbah kedua menjelang selesai.
Cubalah baca artikel atau tulisan yang berisi nasihat atau hadiths, atau ayat al qur’an, pasti akan terasa aneh ditengah orang-orang yang membaca artikel-artikel lawakan yang tak lucu, berita hot atau lainnya.
Dan masih banyak keanehan-keanehan lainnya, tetapi sekali lagi jangan takut menjadi orang “aneh” selama keanehan kita sesuai dengan tuntutan syari’at dan tata nilai serta norma yang benar.
Jangan takut “dihairankan” ketika kita pergi ke masjid, dengan pakaian rapi, kerana itulah yang benar yang sesuai dengan al qur’an (Al A’raf:31)
Jangan takut dikatakan “terlalu alim” ketika kita lakukan shalat dhuha di pejabat, itu yang lebih baik dari sekadar membuat sesuatu yang tiada faedahnya.
Jangan takut dikatakan “Terlalu Rajin” ketika kita shalat tepat pada waktunya, kerana memang shalat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya terhadap orang-orang beriman. “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu baring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa*). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (An Nisaa:103)*
Jangan takut untuk shalat jum’at dishaf terdepan, kerana perintahnya kita patut segerakan…..
“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli[1475]. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui”. (Al Jumu’ah:9)
(1475- Maksudnya: apabila imam Telah naik mimbar dan muazzin Telah azan dihari Jum’at, Maka kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan muazzin itu dan meninggalkan semua pekerjaannya) .
Jangan takut kirim artikel berupa nasihat, hadiths atau ayat-ayat Al Qur’an, kerana itu adalah sebahagian dari tanggungjawab kita untuk saling menasihati, saling menyeru dalam kebenaran, dan seruan kepada kebenaran adalah sebaik-baik perkataan;
*Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah*, mengerjakan amal yang soleh, dan berkata: Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fusshilat:33)
Jangan takut artikel kita tidak dibaca, kerana memang demikianlah Allah menciptakan ladang amal bagi kita. Kalau sekali seru, sekali kirim artikel lantas semua orang mengikuti apa yang kita serukan, habis ladang amal kita….
Jangan takut dipanggil terlalu pintar, terlalu ambil tahu, kerana itulah…
sabda Rasulullah SAW “sampaikan diriku walau satu ayat”
Lakukan “keanehan-keanehan” yang dituntut manhaj dan syari’at yang benar.
Kenakan jilbab dengan teguh dan sempurna, meskipun itu akan terasa aneh ditengah orang-orang yang berbikini dan ber-U can see.
Jangan takut mengatakan perkataan yang benar (Al Qur’an & Hadiths), meskipun akan terasa aneh ditengah orang yang lumrah bertutur tidak bermoral.
Kenapa kita harus takut disebut “orang aneh” jika memang keanehan-keanehan menurut pandangan mereka justru itu yang akan menyelematkan kita (di yaumul akhir, yaumul hisab dan akhirat kelak)…
10). Sembilan & Alasan Orang Tidak Mau Berjiblab.
UNTUK DIKONGSI BERSAMA-SAMA.
Seorang muslimah, diperintahkan untuk menutup auratnya ketika keluar rumah, yaitu dengan mengenakan pakaian syar’i yang dikenal dengan jilbab atau hijab. Namun dalam kenyataan masih banyak di antara para muslimah yang belum mau memakainya. Ada yang dilarang oleh orang tuanya, ada yang beralasan belum waktunya atau nanti setelah pergi haji dan segudang alasan yang lain. Nah apa jawaban untuk mereka?
1. Saya Belum Bisa Menerima Hijab
Untuk ukhti yang belum bisa menerima hijab maka perlu kita tanyakan, “Bukankah ukhti sungguh-sungguh dan yakin dalam memeluk Islam, dan bukankah ukhti telah mengucapkan la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan yakin? Yang berarti menerima apa saja yang diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasulullah? Jika ya maka sesungguhnya hijab adalah salah satu syari’at Islam yang harus dilaksanakan oleh para muslimah. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memerintah kan para mukminah untuk memakai hijab dan demikian pula Rassulullah Shalallaahu alaihi wasalam memerintahkan itu. Jika anda beriman kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, maka anda tentu akan dengan senang hati memakai hijab itu.
2. Saya Menerima Hijab, Namun Orang Tua Melarang.
Kalau saya tidak taat kepada orang tua, saya bisa masuk neraka. Kepada saudariku kita beritahukan bahwa memang benar orang tua memiliki kedudukan yang tinggi dan mulia, dan kita diperintahkan untuk berbakti kepada mereka. Namun taat kepada orang tua dibolehkan dalam hal yang tidak mengandung maksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala , sebagaimana dalam firman-Nya, artinya,
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya,” (QS. Luqman:15)
Meskipun demikian kita tetap harus berbuat baik kepada kedua orang tua kita selama di dunia ini.
Inti permasalahannya adalah, bagaimana saudari taat kepada orang tua namun bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya, padahal Allah Subhannahu wa Ta’ala adalah yang menciptakan anda, memberi nikmat, rizki, menghidupkan dan juga yang menciptakan kedua orang tua saudari?
3. Saya Tidak Punya Uang untuk Membeli Jilbab
Ada dua kemungkinan wanita muslimah yang mengucapkan seperti ini, yaitu mungkin dia berdusta dan mungkin juga dia jujur. Jika dalam kesehariannya dia mampu membeli berbagai macam pakaian dengan model yang beraneka ragam, mampu membeli perlengkapan ini dan itu, maka berarti dia telah bohong. Dia sebenarnya memang tidak berniat untuk membeli pakaian yang sesuai tuntunan syari’at. Padahal pakaian syar،¦i biasanya tidak semahal pakaian-pakaian model baru yang bertabarruj.
Maka apakah saudari tidak memilih pakaian yang seharusnya dikenakan oleh seorang wanita muslimah. Apakah anda tidak memilih sesuatu yang dapat menyelamatkan anda dari adzab Allah Subhannahu wa Ta’ala dan kemurkaan-Nya? Ketahuilah pula bahwa kemuliaan seseorang bukan pada model pakaiannya, namun pada takwanya kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala . Dia telah berfirman, artinya,
“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu.” (QS. al-Hujurat:13)
Adapun jika memang anda seorang yang jujur, jika benar-benar saudari berniat untuk memakai jilbab maka Allah Subhannahu wa Ta’ala akan memberikan jalan keluar. Allah Subhannahu wa Ta’ala telah mengatakan, artinya,
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. ath-Thalaq 2-3)
Kesimpulannya adalah bahwa untuk mencapai keridhaan Allah dan untuk mendapatkan surga, maka segala sesuatu akan menjadi terasa ringan dan mudah.
4. Cuaca Sangat Panas
Jika saudari beralasan bahwa cuaca sangat panas, kalau memakai jilbab rasanya gerah, maka saudari hendaklah selalu mengingat firman Allah Subhannahu wa Ta’ala , artinya,
“Katakanlah, “Api neraka Jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jikalau mereka mengetahui.”(QS. 9:81)
Apakah anda menginginkan sesuatu yang lebih panas lagi daripada panasnya dunia ini, dan bagaimana saudari menyejajarkan antara panasnya dunia dengan panasnya neraka? Yang dikatakan oleh Allah Subhannahu wa Ta’ala , artinya,
“Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman, selain air yang mendidih dan nanah.” (QS. 78:24-25)
Wahai saudariku, ketahuilah bahwa surga itu diliputi dengan berbagai kesusahan dan segala hal yang dibenci nafsu, sedangkan neraka dihiasi dengan segala yang disenangi hawa nafsu.
5. Khawatir Nanti Aku Lepas Jilbab Lagi
Ada seorang muslimah yang mengatakan, “Kalau aku pakai jilbab, aku khawatir nanti suatu saat melepasnya lagi.” Saudariku, kalau seseorang berpikiran seperti anda, maka bisa-bisa dia meninggalkan seluruh atau sebagian ajaran agama ini. Bisa-bisa dia tidak mau shalat, tidak mau berpuasa karena khawatir nanti tidak bisa terus melakukannya.
Itu semua tidak lain merupakan godaan dan bisikan setan, maka hendaklah suadari mencari sebab-sebab yang dapat menjadikan anda selalu beristiqamah. Di antaranya dengan banyak berdo’a agar diberikan ketetapan hati di atas agama, bersabar dan melakukan shalat dengan khusyu’. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman, artinya,
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (QS. 2:45)
Jika saudari telah memegang teguh sebab-sebab hidayah dan telah merasakan manisnya iman maka saudari pasti tidak akan meninggalkan perintah Allah Subhannahu wa Ta’ala , karena dengan melaksanakan itu anda akan merasa tentram dan nikmat.
6. Aku Takut Tidak Ada Yang Menikahiku
Saudariku! Sesungguhnya laki-laki yang mencari istri seorang wanita yang bertabarruj, membuka aurat dan senang melakukan berbagai kemaksiatan maka dia adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa cemburu. Dia tidak cemburu terhadap yang diharamkan Allah Subhannahu wa Ta’ala, tidak cemburu terhadapmu, dan tidak akan membantumu dalam ketaatan, menuju surga serta menyelamatkanmu dari neraka.
Jadilah engkau wanita yang baik, insya Allah Subhannahu wa Ta’ala engkau mendapatkan suami yang baik pula. Engkau lihat berapa banyak wanita yang tidak berhijab, namun dia tidak menikah, dan engkau lihat berapa banyak wanita berjilbab yang telah menjadi seorang istri.
7. Kita Harus Bersyukur
“Oleh karena kecantikan merupakan nikmat dari Allah Subhannahu wa Ta’ala, maka kita harus bersyukur kepada-Nya, dengan memperlihatkan keindahan tubuh, rambut dan kecantikan kita.” Mungkin ada di antara muslimah yang beralasan demikian.
Suadariku! Itu bukanlah bersyukur, karena bersyukur kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala bukan dengan cara melakukan kemaksiatan. Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman,
“Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka.” (QS. an-Nur:31)
Dalam firman-Nya yang lain,
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min, “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. (QS.al-Ahzab:59)
Nikmat terbesar yang Allah Subhannahu wa Ta’ala berikan kepada kita adalah iman dan Islam, jika anda ingin bersyukur kepada Allah maka perlihatkanlah kesyukuran itu dengan sesuatu yang disenangi dan diperintahkan Allah Subhannahu wa Ta’ala, di antaranya adalah dengan mememakai hijab atau jilbab. Inilah syukur yang sebenarnya.
8.Belum Mendapatkan Hidayah
Ada sebagian muslimah yang mengatakan, “Saya tahu bahwa jilbab itu wajib, namun saya belum mendapatkan hidayah untuk memakainya.” Kepada saudariku yang yang beralasan demikian kami katakan, “Bahwa hidayah itu ada sebabnya sebagaimana sakit itu akan sembuh dengan sebab pula. Orang akan kenyang juga dengan sebab, yakni makan. Kalau anda setiap hari meminta kepada Allah agar ditunjukkan ke jalan yang lurus, maka anda harus berusaha meraihnya.Di antaranya, hendaklah anda bergaul dengan wanita yang baik-baik, ini merupakan sarana yang sangat efektif, sehingga hidayah dapat anda raih dan terus-menerus terlimpah kepada ukhti.
9.Aku Takut Dikira Golongan Sesat
Ketahuilah saudariku! Bahwa dalam hidup ini hanya ada dua kelompok, hizbullah (kelompok Allah) dan hizbusy syaithan (kelompok syetan). Golongan Allah adalah mereka yang senantiasa menolong agama Allah Subhannahu wa Ta’ala, melakukan ketaatan dan menjauhi kemaksiatan. Sedangkan golongan setan sebaliknya selalu bermaksiat kepada Allah dan berbuat kerusakan di muka bumi. Dan ketika ukhti melakukan ketaatan, salah satunya adalah memakai hijab maka berarti ukhti telah menjadi golongan Allah ƒ¹, bukan kelompok sesat.
Sebaliknya mereka yang mengumbar aurat, bertabarruj, berpakaian mini dan yang semisal itu, merekalah yang sesat. Mereka telah terbius godaan syetan atau menjadi pengekor orang-orang munafik dan orang-orang kafir. Maka berbahagialah anda sebagai kelompok Allah Subhannahu wa Ta’ala yang pasti menang.
Jilbab atau hijab adalah bentuk ibadah yang mulia, jangan sejajarkan itu dengan ocehan manusia rendahan. Dia disyari’atkan oleh Penciptamu, kalau engkau taat kepada manusia dalam rangka bermaksiat kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala maka sungguh engkau akan binasa dan merugi. Mengapa engkau mau diperbudak oleh mereka dan meninggalkan ketaatan kepada Allah Subhannahu wa Ta’ala Yang menciptakan, memberi rizki, menghidupkan dan mematikanmu?